Rencana Khusus: Prabowo Semprot Direksi BUMN: Sudah Rugi Minta Tantiem, Tidak Tahu Malu!

JAKARTA, KOMPAS.com

Presiden Prabowo Subianto mengatakan bahwa banyak direksi badan usaha milik negara (BUMN) tidak bekerja dengan baik, tapi justru meminta tantiem atau bonus tahunan. Pernyataan ini disampaikannya saat peresmian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur, pada Senin (12/1/2026).

“Terlalu banyak pengalaman kita. Direksi-direksi BUMN, saya katakan saja, tidak baik,” ujar Prabowo.

Pantaskah Tantiem untuk Direksi BUMN?

Dia pun mengaku heran karena para direksi dari perusahaan-perusahaan yang mencatatkan kinerja rugi, justru tetap meminta diberikan tantiem. “BUMN sangat banyak yang rugi. Sudah rugi, minta tantiem lagi. Tidak tahu malu. Dablek menurut saya,” tambahnya.

Prabowo menegaskan, jika direksi BUMN tidak bersedia atau tidak sanggup mengabdi dengan penghasilan yang telah ditetapkan, sebaiknya mengundurkan diri. Menurutnya, banyak pihak yang siap mengisi posisi tersebut. “Kalau enggak mau, kalau enggak sanggup mengabdi dengan penghasilan yang tersedia, berhenti saja. Segera minta berhenti. Banyak yang siap gantikan, Saudara-saudara. Saya percaya, banyak yang siap gantikan,” tegas dia.

Problematika Tantiem BUMN Sudah Menjadi Sorotan Prabowo Sejak Tahun Lalu

Persoalan tantiem petinggi BUMN memang sudah menjadi sorotan Prabowo sejak tahun lalu. Tantiem biasanya diberikan kepada direksi dan komisaris BUMN jika perusahaan mencatatkan laba, atau jika kinerjanya meningkat meski masih merugi.

Ketentuan tantiem itu sempat tertuang dalam Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor PER-02/MBU/2009.

CEO Danantara Ungkap Kebijakan Tantiem Memicu Manipulasi Laporan Keuangan

Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengungkapkan, kebijakan tantiem seringkali membuat banyak perusahaan pelat merah memoles laporan keuangan (lapkeu) agar terlihat berkinerja baik. Tindakan tersebut bahkan melibatkan komisaris BUMN yang seharusnya menjalankan fungsi pengawasan.

“Yang kami lihat dulu-dulu komisaris ikut mendorong supaya profitnya tinggi, tapi dengan cara istilahnya itu mempercatik buku. Laporan keuangannya dibedakin supaya lebih cantik, malah kadang-kadang berani melakukan fraud, pelaporan yang tidak benar,” ungkap Rosan dalam acara HIPMI-Danantara Business Forum 2025 di Kempinski Grand Ballroom, Jakarta, Senin (20/10/2025).

Upaya mempercantik laporan keuangan juga seringkali dilakukan dengan berhutang agar BUMN bisa menyetorkan dividen. Maka dari itu, perbaikan tata kelola BUMN sedang diperbaiki Danantara.

Rosan menegaskan, di bawah Danantara, perusahaan pelat merah tidak bisa lagi mempercantik laporan keuangan. Bahkan, sejumlah BUMN besar akan diperiksa kembali laporan keuangannya karena terindikasi memberikan laporan tidak sesuai kondisi yang sebenarnya.

“Tahun depan saya akan melakukan koreksi beberapa buku perusahaan BUMN, termasuk yang besar-besar, karena pelaporannya tidak sesuai,”

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *